Minggu, 08 Januari 2012

ikan duyung (Dugong dugon)


Ikan Duyung (Dugong dugon)
Kingdom         : Animalia
Filum               : Chordata
Kelas               : Mammalia
Ordo                : Sirenia
Famili              : Dugongidae
Genus              : Dugong
Spesies            : Dugong dugon
Duyung yang ini adalah sejenis ikan atau tepatnya mamalia laut yang bernama latin Dugong dugon. Duyung, seperti mamalia laut lainnya, meskipun hidup di dalam air tetapi ikan duyung bernafas dengan paru-paru dan menyusui anaknya. Binatang inipun makin hari makin langka, termasuk di perairan Bunaken.
Ikan duyung dalam bahasa Inggris dikenal sebagai dugong atau sea cow. Dalam bahasa ilmiah (latin) mamalia yang hidup di air ini disebut sebagai Dugong dugon. Binatang yang bisa ditemui hampir di seluruh pesisir Indonesia ini termasuk binatang yang dilindungi berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999. Ikan duyung mempunyai tubuh yang besar. Panjang badan Duyung dewasa sekitar 2,5-3 meter dengan berat 225-450 kg. Kulit Duyung (Dugong dugon) tebal, keras dan licin dengan warna abu-abu agak kebiruan.
 Duyung memiliki kepala yang bulat dengan mata kecil dan lubang hidung di bagian atas moncong. Memiliki bulu yang terletak di bibir atas yang berguna untuk membantu menemukan makanan. Penglihatan duyung terbatas tetapi memiliki pendengaran yang tajam. Duyung lebih banyak aktif di malam hari (nokturnal) terutama untuk mencari makanan berupa berbagai tumbuhan laut seperti rumput laut, lamun dan akar-akar tanaman lainnya. Sebagaimana mamalia laut lainnya duyung (Dugong dugon) hidup berkelompok dengan anggota antara 5-10 ekor yang terdiri dari induk betina, duyung jantan dan anaknya meskipun terkadang menyendiri. Duyung termasuk binatang yang setia dengan pasangannya dan bersifat monogami. Duyung mampu hidup hingga berusia 70 tahun. Namun perkembangbiakan ikan ini sangat lambat. Biasanya seekor duyung beranak dalam interval 3-7 tahun sekali dengan melahirkan seekor anak dalam setiap satu periode kehamilan.
Persebaran dan Konservasi. Persebaran duyung terdapat di pesisir dan perairan pulau tropis dan subtropis antara Afrika Timur himgga Pasifik bagian barat. Duyung hidup di perairan laut yang berair tenang dan dangkal dengan kedalaman sekitar 20 meter yang banyak ditumbuhi oleh lamun. Lamun ini adalah makanan yan banyak di konsumsi Dugong dugon, namun Dugong dugon juga memakan tumbuhan laut lainnya sepreti rumput laut.
Populasi Dugong dugon di Indonesia sudah banyak menurun,seperti pada tahun 1970an yang berjumlah 10.000, namun pada tahun 1994 populasinya makin menurun drastis yaitu sekitar 1.000 ekor. Penurunan populasi ini diperkirakan karena banyaknya perburuan Dugong dugon yang oleh manusia secara berlebihan untuk mendapatkan daging dan 2 pasang taringnya. Disamping itu adanya pencemaran laut dan pengembangan usaha di pesisir dan daerah litoral dimana sumber makanan Dugong dugong berada. Sementara itu perkembangbiakan yang lambat dan jumlah kelahiran yang terbatas, makin menambah adanya populasi family Dugong makin menurun.
Selain itu populasi Dugong dugon banyak ditemukan di Australia, Teluk Persia, beberapa bagian laut merah, bagian pantai utara dan selatan Afrika Timur, srilangka, Indonesia dan kepulauan pasifik. Di Indonesia Dugong dapat ditemukan di perairan Sulawesi (Taman laut bunaken), di perairan Sumatra (kepulauan riau, Bangka dan Belitung), perairan jawa (Taman Nasional Ujung Kulon, Cilegon, labuhan, Cilacap, segara anakan dan bagian timur blambangan) dan masih banyak perairan-perairan laut indonesia lainnya. Bahkan baru-baru ini di salah satu surat kabar Indonesia menyebutkan bahwa telah di temukan belasan ikan Duyung (Dugong Dugon) hidup di perairan kabupaten kotawaringin barat, Kalimantan tengah. Mamalia laut yang langka ini hidup di perairan Teluk Kumai,hidup di daerah perairan antara tanjung Puting dan Teluk Bogam, karena disini banyak padang lamun yang menjadi habitat laut bagi binatang yang dilindugi ini.
Duyung didaftar dalam status konservasi “vulnerable” (rentan) oleh IUCN Redlist sejak tahun 1982. Dan terdaftar dalam CITES Apendiks I sehingga tidak boleh diperdagangkan secara bebas. Di Indonesia, mamalia laut yang semakin langka ini dilindungi dari kepunahan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan jenis Tumbuhan dan Satwa.

Minggu, 18 Desember 2011

RESUME JURNAL INTERNASIONAL

Implementing Project-Based Learning And E-Portofolio Assessment In an Undergraduate Course
(Yasemin Gülbahar and Hasan Tinmaz, Baskent University-Turkey, Journal of Research on Technology in Education-ISTE Vol 38 No 3 Spring 2006)
A.      Latar Belakang
Penelitian yang dilakukan adalah sebuah studi kasus untuk menjawab pertanyaan para pendidik tentang proses belajar mengajar yang efektif. Proses pembelajaran yang efektif ini dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan, mulai dari pendekatan behaviorisme, kognitivisme, sampai pendekatan kontruktivisme. Pembelajaran berbasis proyek adalah salah satu metode yang didasarkan pada konstruktivisme dengan mendukung keterlibatan siswa dalam pemecahan masalah (Doppelt, 2003).
Selain menggunakan pendekatan dalam proses pembelajaran, maka diperlukan pula pendekatan dalam penilaian. Karena pengajaran yang efektif adalah memperhatikan proses pembelajaran dan penilaian. Dalam penilaian, terdapat pendekatan alternatif seperti rubrik, penilaian diri, dan portofolio.
Dengan demikian, studi kasus pada jurnal ini terutama didasarkan pada pendekatan konstruktivisme, dengan pembelajaran berbasis proyek sebagai metode pengajaran dan e-portofolio penilaian sebagai strategi evaluasi.
B.       Masalah
            Masalah yang diangkat dalam jurnal ini adalah kurangnya penerapan metode pembelajaran dan penilaian dalam merancang, mengembangkan dan mengevaluasi software pendidikan bagi mahasiswa dari Jurusan Pendidikan Komputer dan Teknologi Instruksional. Untuk itu, studi kasus ini bertujuan untuk menerapkan pembelajaran berbasis proyek dengan memanfaatkan penilaian portofolio dalam kelas dengan skala kecil (N = 8) agar siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran.
C.      Metodelogi
Penelitian dalam studi kasus ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Instrumen untuk mengumpulkan data kualitatif dan kuantitatif mencakup analisis tugas, laporan dan produk, wawancara formal dan informal terstruktur dengan siswa, dan formulir evaluasi. Data dikumpulkan pada waktu yang berbeda dan bertahap selama pembelajaran berlangsung. Untuk analisis kualitatif, dilakukan wawancara dengan siswa dan analisis laporan akhir. Untuk analisis kuantitatif, dilakukan penghitungan statistik deskriptif.
Penelitian ini dilakukan kepada calon guru (mahasiswa) di Departemen
Pendidikan Komputer dan Instructional Technology di Fakultas Pendidikan, di sebuah Universitas swasta di Turki. Dengan jumlah siswa delapan (lima perempuan dan tiga laki-laki).
Untuk mengumpulkan persepsi siswa tentang pendekatan pembelajaran berbasis proyek, dilakukan wawancara semi-terstruktur dengan masing-masing siswa. Pertanyaan tersebut meliputi kesulitan yang dihadapi dalam desain softwere pendidikan, keuntungan dan kerugian pembelajaran berbasis proyek, dan penilaian portofolio. Data mengenai kepuasan dari keseluruhan pembelajaran dan instruktur diambil melalui kuesioner yang bernama Instruktur dan Kuesioner Evaluasi Pembelajaran, yang diberikan kepada siswa diakhir  semester. Kuesioner ini terdiri dari 16 pertanyaan.
D.      Landasan Teori
Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif maka perlu dilakukan penerapan metode pembelajaran dan penilaian dalam merancang, mengembangkan dan mengevaluasi software pendidikan bagi mahasiswa dari Jurusan Pendidikan Komputer dan Teknologi Instruksional. Untuk itu, studi kasus ini bertujuan untuk menerapkan pembelajaran berbasis proyek dengan memanfaatkan penilaian portofolio dalam kelas dengan skala kecil (N = 8) agar siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran.
Pembelajaran berbasis proyek dapat didefinisikan secara singkat sebagai "sebuah model pembelajaran dengan mengadakan sebuah proyek" (Thomas, 2000, hal 1). Adapun kriteria pembelajaran berbasis proyek adalah pembelajaran terfokus pada kegiatan belajar, bukan mengikuti kurikulum, pembelajaran terfokus pada pertanyaan atau masalah siswa untuk menemukan konsep-konsep, pembelajaran melibatkan siswa dalam penyelidikan konstruktif, siswa didorong untuk berfikir secara signifikan dan realistis.
Sedangkan penilaian portofolio menurut Barrett (2001), portofolio dapat didefinisikan sebagai karya yang dikumpulkan siswa dari refleksi siswa yang menunjukkan pertumbuhan mereka di sepanjang proses pembelajaran. Barzilai (2004) menyarankan bahwa strategi penilaian tradisional tidak akan sesuai untuk mengukur tujuan dari program pembelajaran berbasis proyek. Sebagai alternatif penilaian, jenis metode portofolio secara luas dapat digunakan untuk pembelajaran berbasis proyek karena komponennya adalah refleksi dari siswa, adanya perbaikan untuk kemajuan siswa, dan tercapainya tujuan pembelajaran. Dengan menggunakan e-portofolio, siswa memiliki kesempatan untuk merefleksikan atas pembelajaran mereka dan guru memiliki kesempatan untuk memberikan umpan balik pada pekerjaan (membuat produk) siswa (Ahn, 2004).
E.       Hasil
Hasil dari studi kasus pada jurnal ini adalah sebagai berikut :
1.   Hasil wawancara mengenai prosees pembelajaran, rata-rata siswa menyukai metode pembelajaran berbasis proyek dan penilaian fortofolio.
2.   Pada fase desain sofware, instruktur dan asisten dosen mengamati bahwa meskipun beberapa contoh diberikan untuk siswa, mereka tidak bisa menghasilkan skenario kreatif dan memiliki kesulitan merancang topik yang dipilih.
3.   Data mengenai kepuasan dari keseluruhan pembelajaran dan instruktur diambil melalui kuesioner yang bernama Instruktur dan Kuesioner Evaluasi Pembelajaran dengan nilai rata-rata untuk kuesioner 4,37, ini menunjukkan tingginya tingkat kepuasan siswa. Rentang (,43) dari setiap item sangat dekat, menunjukkan bahwa semua siswa puas dengan instruktur dan pembelajaran ini. Selain itu, rata-rata siswa memilih "sangat setuju" (5) dan "setuju" (4) terhadap keseluruhan pembelajaran. Siswa sepakat bahwa pembelajaran berbasis proyek menghasilkan hasil yang sukses untuk pembelajaran siswa.
F.       Kesimpulan
            Kesimpulan yang dapat diambil dari study kasus pada jurnal ini adalah:
1.    Hal terpenting yang diamati peneliti adalah ketidakmampuan siswa untuk membuat skenario untuk software pendidikan. Sehingga produk (software pendidikan) dari pembelajaran berbasis proyek kurang maksimal. Hal ini dikarenakan kurangnya program yang menekankan keterampilan berpikir seperti kreativitas dan pemecahan masalah.
2.    Untuk penilaian portofolio merupakan metode penilaian yang disukai oleh semua siswa, karena siswa mendapatkan umpan balik mingguan mengenai tugas dan memiliki kesempatan untuk mendesain ulang tugas sebelum penyerahan akhir dievaluasi oleh siswa sebagai kesempatan besar untuk perbaikan diri. Selain itu, penggunaan e-portofolio menunjukkan model pembelajaran yang berpusat untuk calon guru.
G.      Komentar (Keunggulan dan Kekurangan)
1.    Keunggulan
            Menurut pendapat saya kelebihan dari studi kasus ini adalah adanya instrumen penelitian pada akhir halaman dan peneliti melakukan analisis kualitatif dan kuantitatif, sehingga hasil penelitian memuaskan. Keunggulan lainnya yaitu ketepatan peneliti dalam memilih alternatif penilaian yang sesuai dengan metode pembelajaran berbasis proyek. Dengan penilaian portofolio ini, siswa dapat merefleksikan diri untuk kemajuan siswa dengan adanya umpan balik mingguan yang dilakukan peneliti dengan siswa pada proses pembelajaran sehingga tujuan dari pembelajaran berbasis proyek tercapai.
2.    Kekurangan
            Menurut pendapat saya, kekurangan dari studi kasus dalam jurnal ini adalah jumlah peserta yang rendah yaitu 8 orang sehingga penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan. Dan dengan jumlah siswa yang sedikit ini menyebabkan penelitian hanya dilakukan dengan memberikan tugas yang dikerjakan secara individu tanpa adanya tugas yang dikerjakan secara kelompok. Sehingga tidak diketahui perbandingan antara tugas yang dikerjakan secara individu dengan tugas yang dikerjakan secara kelompok. Menurut Özdener dan Özçoban (2004) pada jurnal tersebut mengusulkan bahwa pembelajaran berbasis proyek dapat diterapkan untuk individu dan kelompok, membentuk kelompok yang terdiri dari dua atau tiga orang untuk melaksanakan proyek tersebut akan lebih cocok. Namun, peneliti tidak menerapkannya pada penelitian ini, sehingga peneliti kurang mampu mengembangkan berfikir kreatif pada siswa, hal ini ditunjukkan dengan ketidakmampuan siswa untuk membuat skenario untuk software pendidikan sehingga produk dari pembelajaran berbasis proyek kurang maksimal.

Summative Assessment with Formative Feedback: An Intervention in a Small Bioscience Cohort
(Damian Parry, Carl Larsen and Cathy Walsh, Department of Health and Applied Social Sciences-Liverpool Hope University, bioscience journal vol 11- juni 2008)

A.   Latar Belakang
             Salah satu prinsip dalam desain kurikulum adalah kebutuhan untuk mencapai keselarasan konstruktif antara hasil pembelajaran yang diharapkan, kegiatan pembelajaran dan penilaian (Biggs, 1999). Nicol dan Macfarlane-Dick (2006) berpendapat bahwa kunci untuk keselarasan konstruktif adalah memastikan bahwa guru dan siswa membentuk kemitraan dengan dialog melalui umpan balik yang merupakan dasar dari kegiatan belajar mengajar.
Dalam menanggapi kebutuhan untuk membuka dialog seputar penilaian siswa maka dilakukan studi percontohan di modul Bioscience kecil (14 siswa yang terdaftar pada modul namun hanya 10 siswa yang menyelesaikan 3 praktik dalam jangka waktu yang ditentukan) dimana perhatian peneliti difokuskan pada umpan balik yang konstruktif, dengan judul penelitian yaitu “Penilaian sumatif dengan Umpan Balik Formatif: Sebuah Intervensi dalam Kohort Biosains Kecil
B.   Masalah
            Masalah yang diangkat dalam jurnal ini adalah kurangnya peningkatan dan penekanan pada umpan balik formatif sehingga hasil pembelajaran kurang maksimal. Tujuan dari penelitian ini adalah membentuk kemitraan dengan dialog antara guru dan siswa melalui umpan balik formatif untuk meningkatkan pembelajaran sehingga hasil pembelajaran maksimal.
C.   Metodelogi
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, yang ditunjukkan dengan proses pembelajaran yang berkelanjutan yaitu terdiri dari 3 praktis. Studi kasus ini difokuskan pada umpan balik yang konstruktif. Siswa melakukan berbagai kegiatan dalam modul yang terdiri dari tiga praktis. Laporan praktis dan umpan balik dilakukan setiap dua minggu setelah dilakukan kegiatan. Penyerahan laporan dirancang sedemikian rupa untuk memastikan umpan balik akan mengarah atau berhubungan dengan penyerahan laporan berikutnya. Umpan balik ini fokus pada pembelajaran dan masing-masing siswa diberikan informasi tentang kemajuan mereka sendiri. Guru harus memastikan bahwa selama diskusi masing-masing kriteria penilaian ditujukan pada siswa baik untuk tugas saat ini ataupun tugas yang akan datang. Studi kasus ini melibatkan 14 siswa yang terdaftar pada modul namun hanya 10 siswa yang menyelesaikan 3 praktik dalam jangka waktu yang ditentukan.
D.   Landasan Teori
Untuk membangun kemitraan dan dialog antara siswa dan guru dilakukan pembelajaran yang berpusat pada umpan balik yang konstruktif. Umpan balik formatif merupakan dimensi terpenting, apabila diberikan pada waktu yang tepat dan dengan cara yang terbaik karena dapat menyebabkan peserta didik terus menuju pencapaian sukses dalam konteks penilaian sumatif "(Ras, 2005, hal 97) Dan ada beberapa pendapat dalam komunitas akademik yaitu meningkatkan penekanan terhadap umpan balik formatif dapat meningkatkan pembelajaran (Dearing, 1997; Park dan Crook, 2007). Umpan balik formatif ini dinilai sebagai sarana untuk membuka dialog yang mendalam antara siswa dengan guru agar tujuan pembelajaran tercapai.
E.   Hasil
Hasil dari studi kasus dalam jurnal ini adalah hampir semua siswa merasa senang melakukan proses pembelajaran dengan adanya umpan balik secara formatif karena siswa dapat berdialog secara terbuka dengan guru untuk mencapai tujuan pembelajaran dalam konteks penilaian sumatif yang memuaskan.
Dalam prestasi belajar siswa secara keseluruhan untuk 3 praktis, setelah dilakukan dua intervensi umpan balik, secara signifikan meningkat jika dibandingkan dengan praktis 1 (tindakan berulang ANOVA, p = 0,001). Dan untuk membandingkan prestasi digunakan uji-t berpasangan dalam praktis 1 sampai  praktis 3, prestasi dalam kriteria penilaian yang berkaitan dengan struktur (p = 0), tujuan (p = 0,046), data (p = 0,45) dan aplikasi (p = 0,008) meningkat secara signifikan dalam menanggapi umpan balik (df = 9 dalam semua kasus).
F.    Kesimpulan
Kesimpulan studi kasus pada jurnal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yaitu penelitian ini dapat meningkatkan prestasi siswa dalam proses pembelajaran, walaupun dalam jumlah kecil namun memberikan bukti bahwa secara signifikan praktis ini dapat digunakan untuk meningkatkan prestasi siswa.
G.   Komentar (Keunggulan dan Kekurangan)
1.        Keunggulan
Menurut pendapat saya keunggulan yang terdapat pada jurnal ini adalah terdapat grafik mengenai nilai yang dicapai siswa pada setiap praktis yaitu dari praktis 1 sampai praktis 3. Keunggulan lainnya adalah jurnal ini menyebutkan  bahwa walaupun dalam penelitian ini jumlah pesesta rendah (N=10) namun memberikan bukti bahwa secara signifikan praktis ini dapat digunakan untuk meningkatkan prestasi siswa dengan hasil penelitian yang menunjukkan peningkatkan prestasi siswa dalam proses pembelajaran,
2.        Kekurangan
Menurut pendapat saya kekurangan yang terdapat pada jurnal ini adalah jurnal berbentuk deskriptif sehingga pembaca kurang memahami alur penelitian dan dibutuhkan pemikiran yang masak untuk mencerna isi jurnal. Dalam jurnal ini tidak terdapat instrumen penelitian sehingga pembaca tidak dapat mengetahui dengan pasti kriteria apa saja yang dilakukan pada penelitian ini. Dan dalam jurnal ini juga tidak dijelaskan tentang tugas apa yang dilakukan siswa pada setiap praktis, hanya dijelaskan tugas memiliki bobot dan kualitas yang sama dalam setiap praktis. Jumlah peserta penelitian juga sedikit karena